Tulisan guruku yang satu ini mungkin menjadi pemikiran guru-guru lain juga.
Para praktisi pendidikan berada dalam posisi sulit. Apalagi guru. Kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan rendahnya mutu karakter bangsa ditimpakan kepada guru. Katanya, guru harus mengintegrasikan pendidikan karakter dalam silabus. Yaaa, bolehlah. Tapi rasanya fakta di lapangan lebih kuat pengaruhnya terhadap terbentuknya karakter generasi muda. Terutama karakter negatif. Siapa sih yang memberi contoh korupsi? Siapa yang memberi contoh curang? Mana acara televisi yang menyangkut pendidikan? Hampir tak ada. Yang ada hanyalah acara banyolan-banyolan, musik, gosip, olahraga, berita, kasus-kasus wakil rakyat. Bagaimana mungkin generasi muda akan belajar secara positif dari televisi? Minat baca turun. Perpustakaan sepi. Koran tak ada yang menyentuh. Buku pelajaran tak pernah dibaca, masih wangi toko. Kalau sudah main HP,FB, atau jejaring sosial yang lain, wah tak bisa dihentikan.
Mari semuanya kita bekerja sama mendidik bangsa ini. Guru hanya salah satu komponen pendidik. Sementara, sumber pendidikan siswa bukan hanya guru, tapi seluruh komponen yang dia saksikan.



